0821-3437-2548 etcindonesia7@gmail.com

CHICAGO — Emas berjangka menguat pada akhir perdagangan Rabu (14/10), rebound dari penurunan tajam sehari sebelumnya, karena pelemahan dolar AS serta ketidakpastian seputar pemilihan AS.  Pemulihan ekonomi global meningkatkan daya pikat aset aman logam mulia. Kontrak emapaling aktif untuk pengiriman Desember di divisi COMEX New York Mercantile Exchange, bangkit 12,7 dolar AS atau 0,67 persen, menjadi ditutup pada 1.907,30 dolar AS per ounce. Sehari sebelumnya (13/10), emas berjangka anjlok 34,3 dolar AS atau 1,78 persen menjadi 1.894,60 dolar AS.

“Indeks dolar turun hari ini, imbal hasil lebih rendah yang mendukung emas dan kami juga melihat beberapa pembelian teknis mungkin karena koreksi kemarin sedikit berlebihan,” kata Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities.

Dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, sementara imbal hasil obligasi 10-tahun pemerintah AS yang menjadi acuan juga merosot. Emas berjangka anjlok 1,78 persen pada Selasa (13/10) setelah greenback menguat karena kebuntuan atas stimulus fiskal AS.

“Kami harus mendapatkan stimulus, tidak peduli siapa yang memenangkan pemilu – Demokrat atau Republik, faktanya adalah AS membutuhkan paket stimulus, meskipun tampaknya diragukan bahwa kami akan mendapatkannya sebelumnya. pemilu,” tambah Melek.

Emas, yang dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang, telah melonjak sekitar 26 persen sejauh tahun ini di tengah tingkat stimulus global yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk meredakan pukulan ekonomi dari pandemi.

Investor juga mengawasi kampanye presiden AS, dengan jajak pendapat menunjukkan kandidat Demokrat Joe Biden memimpin persaingan.

“Tingkat 1.900 dolar AS per ounce telah menjadi medan pertempuran untuk emas,” kata Eli Tesfaye, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 26,6 sen atau 1,10 persen menjadi ditutup pada 24,395 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun 9,9 dolar AS atau 1,13 persen menjadi ditutup pada 863,4 dolar AS per ounce.