0821-3437-2548 etcindonesia7@gmail.com

Harga minyak turun pada Senin (28/12) pagi seiring berlanjutnya kekhawatiran permintaan bahan bakar membayangi berita bahwa Presiden petahana AS Donald Trump menandatangani RUU stimulus terbaru.

Harga minyak Brent turun 0,37% di $51,15 per barel pukul 10.17 WIB dan harga WTI berjangka turun 0,35% ke $48,06 per barel menurut data Investing.com.

Komoditas minyak ini telah membukukan kerugian mingguan pertamanya sejak Oktober karena varian COVID-19, B.1.1.7, selain penemuan jenis virus mutan kedua yang kemungkinan berasal dari Afrika Selatan, meningkatkan adanya kemungkinan pemberlakuan pembatasan negara-negara dunia.

Inggris telah memberlakukan pembatasan yang lebih ketat di mayoritas wilayah negaranya untuk mengendalikan penyebaran kedua jenis tersebut, dengan pemerintah China menambahkan negaranya masuk ke dalam daftar negara-negara yang menangguhkan penerbangan penumpang ke Inggris. AS juga bersiap menyambut lonjakan kasus COVID-19 pasca-Natal.

Namun, berita bahwa Trump dilaporkan telah menandatangani RUU bantuan pandemi dan paket belanja senilai $2,3 triliun, sehingga mencegah penutupan sebagian pemerintah federal, meningkatkan sentimen investor. Paket tersebut disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS dan Senat AS selama minggu sebelumnya, dan Trump mengancam akan menahan penandatanganan saat dia berjuang untuk meningkatkan jumlah nilai stimulus dalam paket tersebut.

Minyak mengakhiri 2020 dengan catatan buruk, karena risiko permintaan jangka pendek dari lebih banyak tindakan pembatasan dan perjalanan lebih besar daripada berita stimulus dan optimisme saat vaksin COVID-19 diluncurkan. Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, juga dikenal sebagai OPEC+, juga akan mengurangi pembatasan produksi yang ada saat ini diterapkan sebesar 500.000 barel per hari mulai Januari dan seterusnya.

Pesimisme tercermin pada kurva kontrak berjangka minyak mentah. Jangka waktu cepat Brent berjangka adalah 6 sen per barel di contango dan sebaran itu turun sebanyak 13 sen di awal bulan.

Trump juga meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyebut Iran bertanggung jawab atas serangan roket hari Minggu di dekat kedutaan AS di Baghdad. Kementerian Luar Negeri Iran membantah klaim tersebut.

Sementara itu, Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh mengatakan di awal bulan bahwa Iran berencana untuk melipatgandakan produksinya pada 2021. Langkah tersebut bertentangan dengan upaya OPEC+ untuk meningkatkan pasokan bertahap dan menghindari kelebihan pasokan di pasar.

Sumber

Share with: